<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7611914168134255876</id><updated>2012-02-16T18:25:49.780-08:00</updated><title type='text'>keterbatasan waktu</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.ngaco.tk/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7611914168134255876/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ngaco.tk/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11556631060120660835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7611914168134255876.post-7724174464526470833</id><published>2011-08-25T03:17:00.000-07:00</published><updated>2011-08-25T03:17:04.536-07:00</updated><title type='text'>TIDAK SEPERTI DULU</title><content type='html'>Disaat orang lain gembira,bahagia seakan mereka terbebas dari peperangan.&lt;br /&gt;Kembali menjadi fitri,gema takbir pun mulai berkumandang di langgar,mushola,masjid bahkan ada juga yg berkeliling kota.tapi bagiku dan juga keluargaku keadaannya mungkin berbeda dengan yg lainnya.&lt;br /&gt;Selama 21tahun saya dan keluarga saya berlebaran tanpa sang ayah,tapi kami selalu bersyukur masih ada ibu yg slalu menyayangi kami.malam takbir adalah dimana kesedihan itu muncul di karenakanhari dmn ayahanda pergi untuk selama-lamanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7611914168134255876-7724174464526470833?l=www.ngaco.tk' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ngaco.tk/feeds/7724174464526470833/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ngaco.tk/2011/08/tidak-seperti-dulu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7611914168134255876/posts/default/7724174464526470833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7611914168134255876/posts/default/7724174464526470833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ngaco.tk/2011/08/tidak-seperti-dulu.html' title='TIDAK SEPERTI DULU'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11556631060120660835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7611914168134255876.post-7933096413255109885</id><published>2011-08-23T15:01:00.000-07:00</published><updated>2011-08-23T15:01:39.117-07:00</updated><title type='text'>TERINGAT AKAN SEORANG AYAH</title><content type='html'>Ya Allah,,,&lt;br /&gt;Hari ini hamba teringat kepada sosok seorang ayah,yg telah lama meninggal dunia menghadap&lt;br /&gt;Mu,,,&lt;br /&gt;Tak terasa berlinanglah air mata membasahi pipi,&lt;br /&gt;Air mata ini turun bukan karena gembira,susah melainkan rindu anak. Seorang anak kepada ayahanda tercinta.&lt;br /&gt;Tak terasa sudah hampir 21tahun ayah meninggalkan kami ( keluarga )untuk menghadap kepada-Mu&lt;br /&gt;Ya Allah ya rabb,,,&lt;br /&gt;Apakah tidak ada kesempatan hamba untuk bertemu ayah walaupun hanya dalam mimpi&lt;br /&gt;Ayah apakah engkau tidak rindu dengan anakmu,,,!!!!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7611914168134255876-7933096413255109885?l=www.ngaco.tk' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ngaco.tk/feeds/7933096413255109885/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ngaco.tk/2011/08/teringat-akan-seorang-ayah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7611914168134255876/posts/default/7933096413255109885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7611914168134255876/posts/default/7933096413255109885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ngaco.tk/2011/08/teringat-akan-seorang-ayah.html' title='TERINGAT AKAN SEORANG AYAH'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11556631060120660835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7611914168134255876.post-5368195321458468332</id><published>2011-08-10T15:06:00.000-07:00</published><updated>2011-09-13T04:41:37.956-07:00</updated><title type='text'>SYEKH SITI JENAR</title><content type='html'>&lt;b&gt;Syekh Siti Jenar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh Abdus Syakuur  pada 13 Desember 2010 jam 12:35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh  Siti  Jenar lahir sekitar tahun 829  H/1348 C/1426 M (Serat She Siti  Jenar  Ki Sasrawijaya; Atja, Purwaka  Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi   Keradjan Tjirebon), Ikatan Karyawan  Museum, Jakarta, 1972; P.S.   Sulendraningrat, Purwaka Tjaruban Nagari,  Bhatara, Jakarta, 1972; H.   Boedenani, Sejarah Sriwijaya, Terate,  Bandung, 1976; Agus Sunyoto,   Suluk Abdul Jalil Perjalanan Rohani Syaikh  Syekh Siti Jenar dan Sang   Pembaharu, LkiS, yogyakarta, 2003-2004;  Sartono Kartodirjo dkk,   [i]Sejarah Nasional Indonesia, Depdikbud,  Jakarta, 1976; Babad Banten;   Olthof, W.L., Babad Tanah Djawi. In Proza  Javaansche Geschiedenis,   ‘s-Gravenhage, M.Nijhoff, 1941; raffles, Th.S.,  The History of Java, 2   vol, 1817), dilingkungan Pakuwuan Caruban, pusat  kota Caruban larang   waktu itu, yg sekarang lebih dikenal sebagai Astana  japura, sebelah   tenggara Cirebon. Suatu lingkungan yg multi-etnis,  multi-bahasa dan   sebagai titik temu kebudayaan serta peradaban berbagai  suku.&lt;br /&gt;Selama   ini, silsilah Syekh Siti Jenar  masih sangat kabur. Kekurang jelasan   asal-usul ini juga sama dgn  kegelapan tahun kehidupan Syekh Siti Jenar   sebagai manusia sejarah.&amp;nbsp;  Pengaburan tentang silsilah, keluarga dan   ajaran Beliau yg dilakukan  oleh penguasa muslim pada abad ke-16 hingga   akhir abad ke-17. Penguasa  merasa perlu untuk “mengubur” segala yg   berbau Syekh Siti Jenar akibat  popularitasnya di masyarakat yg   mengalahkan dewan ulama serta ajaran  resmi yg diakui Kerajaan Islam   waktu itu. Hal ini kemudian menjadi latar  belakang munculnya kisah   bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari cacing.&lt;br /&gt;Dalam sebuah naskah   klasik, cerita yg  masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas,   “Wondene kacariyos  yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika  ded,  sajatosipun inggih  pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing   dhusun Lemahbang.” [Adapun  diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti   Jenar) itu berasal dari cacing,  itu salah. Sebenarnya ia memang manusia   berdarah kecil saja (rakyat  jelata), bertempat tinggal di desa Lemah   Abang]….&amp;lt;serat candhakipun="" riwayat="" jati="" alih="" aksara=""  perpustakaan="" daerah="" propinsi="" jawa="" tengah=""  hlm.=""&amp;gt;&amp;lt;/serat&amp;gt;&lt;br /&gt;Jadi Syekh Siti  Jenar adalah manusia   lumrah hanya memang ia walau berasal dari kalangan  bangsawan setelah   kembali ke Jawa menempuh hidup sebagai petani, yg  saat itu, dipandang   sebagai rakyat kecil oleh struktur budaya Jawa,  disamping sebagai wali   penyebar Islam di Tanah Jawa.&lt;br /&gt;Syekh Siti  Jenar yg memiliki nama  kecil  San Ali dan kemudian dikenal sebagai Syekh  ‘Abdul Jalil adalah  putra  seorang ulama asal Malaka, Syekh Datuk  Shaleh bin Syekh ‘Isa  ‘Alawi bin  Ahmadsyah Jamaludin Husain bin Syekh  ‘Abdullah Khannuddin  bin Syekh  Sayid ‘Abdul Malikal-Qazam. Maulana  ‘Abdullah Khannuddin  adalah putra  Syekh ‘Abdul Malik atau Asamat Khan.  Nama terakhir ini  adalah seorang  Syekh kalangan ‘Alawi kesohor di  Ahmadabad, India, yg  berasal dari  Handramaut. Qazam adalah sebuah  distrik berdekatan dgn  kota Tarim di  Hadramaut.&lt;br /&gt;Syekh ‘Abdul  Malik adalah putra Syekh   ‘Alawi, salah satu keluarga utama keturunan  ulama terkenal Syekh ‘Isa   al-Muhajir al-Bashari al-’Alawi, yg semua  keturunannya bertebaran ke   berbagai pelosok dunia, menyiarkan agama  Islam. Syekh ‘Abdul Malik   adalah penyebar agama Islam yg bersama  keluarganya pindah dari Tarim ke   India. Jika diurut keatas, silsilah  Syekh Siti Jenar berpuncak pada   Sayidina Husain bin ‘Ali bin Abi  Thalib, menantu Rasulullah. Dari   silsilah yg ada, diketahui pula bahwa  ada dua kakek buyutnya yg menjadi   mursyid thariqah Syathariyah di  Gujarat yg sangat dihormati, yakni  Syekh  Abdullah Khannuddin dan Syekh  Ahmadsyah Jalaluddin. Ahmadsyah   Jalaluddin setelah dewasa pindah ke  Kamboja dan menjadi penyebar agama   Islam di sana.&lt;br /&gt;Adapun Syekh  Maulana ‘sa atau Syekh  Datuk ‘Isa  putra Syekh Ahmadsyah kemudian  bermukim di Malaka. Syekh  Maulana ‘Isa  memiliki dua orang putra, yaitu  Syekh Datuk Ahamad dan  Syekh Datuk  Shaleh. Ayah Syekh Siti Jenar adalah  Syekh Datuk Shaleh  adalah ulama  sunni asal Malaka yg kemudian menetap  di Cirebon karena  ancaman  politik di Kesultanan Malaka yg sedang  dilanda kemelut kekuasaan  pada  akhir tahun 1424 M, masa transisi  kekuasaan Sultan Muhammad  Iskandar  Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah.  Sumber-sumber Malaka dan  Palembang  menyebut nama Syekh Siti Jenar dgn  sebutan Syekh Jabaranta dan  Syekh  ‘Abdul Jalil.&lt;br /&gt;Pada akhir tahun  1425, Syekh Datuk  Shaleh beserta  istrinya sampai di Cirebon dan saat  itu, Syekh Siti Jenar  masih berada  dalam kandungan ibunya 3 bulan. Di  Tanah Caruban ini,  sambil  berdagang Syekh Datuk Shaleh memperkuat  penyebaran Islam yg sudah   beberapa lama tersiar di seantero bumi  Caruban, besama-sama dgn ulama   kenamaan Syekh Datuk Kahfi, putra Syehk  Datuk Ahmad. Namun, baru dua   bulan di Caruban, pada tahun awal tahun  1426, Syekh Datuk Shaleh  wafat.&amp;nbsp;  Sejak itulah San Ali atau Syekh Siti  Jenar kecil diasuh oleh  Ki  Danusela serta penasihatnya, Ki Samadullah  atau Pangeran  Walangsungsang  yg sedang nyantri di Cirebon, dibawah  asuhan Syekh  datuk Kahfi.&lt;br /&gt;Jadi walaupun San Ali adalah keturunan   ulama  Malaka, dan lebih jauh lagi keturunan Arab, namun sejak kecil    lingkungan hidupnya adalah kultur Cirebon yg saat itu menjadi sebuah    kota multikultur, heterogen dan sebagai basis antarlintas perdagangan    dunia waktu itu.&lt;br /&gt;Saat itu Cirebon dgn Padepokan Giri  Amparan   Jatinya yg diasuh oleh seorang ulama asal Makkah dan Malaka,  Syekh   Datuk Kahfi, telah mampu menjadi salah satu pusat pengajaran  Islam,   dalam bidang fiqih dan ilmu ‘alat, serta tasawuf. Sampai usia 20  tahun,   San Ali mempelajari berbagai bidang agama Islam dgn sepenuh hati,    disertai dgn pendidikan otodidak bidang spiritual.&lt;br /&gt;﻿&lt;br /&gt;Setelah   diasuh oleh Ki Danusela samapai  usia 5 tahun, pada sekitar tahun 1431   M, Syekh Siti Jenar kecil (San  Ali) diserahkan kepada Syekh Datuk   Kahfi, pengasuh Pedepokan Giri  Amparan Jati, agar dididik agama Islam   yg berpusat di Cirebon oleh  Kerajaan Sunda di sebut sebagai musu(h)   alit [musuh halus] &amp;lt;purwaka caruban="" nagari="" cat.="" sejarah=""  nasional="" indonesia="" vol.="" ii=""&amp;gt;&amp;lt;/purwaka&amp;gt;&lt;br /&gt;Di  Padepokan Giri Amparan  Jati ini, San  Ali menyelesaikan berbagai  pelajaran keagamaan, terutama  nahwu, sharaf,  balaghah, ilmu tafsir,  musthalah hadist, ushul fiqih dan  manthiq. Ia  menjadi santri generasi  kedua. Sedang yg akan menjadi  santri generasi  ketiga adalah Syarif  Hidayatullah atau Sunan Gunung  Jati. Syarif  Hidayatullah baru datang  ke Cirebon, bersamaan dgn  pulangnya Syekh Siti  Jenar dari  perantauannya di Timur Tengah sekitar  tahun 1463, dalam  status sebagai  siswa Padepokan Giri Amparan Jati, dgn  usia sekitar 17-an  tahun.&lt;br /&gt;Pada  tahun 1446 M, setelah 15 tahun   penuh menimba ilmu di Padepokan  Amparan Jati, ia bertekad untuk keluar   pondok dan mulai berniat untuk  mendalami kerohanian (sufi). Sebagai   titik pijaknya, ia bertekad untuk  mencari “sangkan-paran” dirinya.  Tujuan pertmanya adalah Pajajaran yg  dipenuhi oleh para pertapa dan ahli   hikmah Hindu-Budha. Di Pajajaran,  Syekh Siti Jenar mempelajari kitab   Catur Viphala warisan Prabu  Kertawijaya Majapahit. Inti dari kitab Catur   Viphala ini mencakup  empat pokok laku utama.&lt;br /&gt;Pertama, nihsprha,  adalah suatu keadaan   di mana tidak adal lagi sesuatu yg ingin dicapai  manusia. Kedua,   nirhana, yaitu seseorang tidak lagi merasakan memiliki  badan dan   karenanya tidak ada lagi tujuan. Ketiga, niskala adalah  proses rohani   tinggi, “bersatu” dan melebur (fana’) dgn Dia Yang Hampa,  Dia Yang Tak   Terbayangkan, Tak Terpikirkan, Tak Terbandingkan.  Sehingga dalam  kondisi  (hal) ini, “aku” menyatu dgn “Aku”. Dan keempat,  sebagai  kesudahan dari  niskala adalah nirasraya, suatu keadaan jiwa yg   meninggalkan niskala  dan melebur ke Parama-Laukika (fana’ fi   al-fana’), yakni dimensi  tertinggi yg bebas dari segala bentuk keadaan,   tak mempunyai ciri-ciri  dan mengatasi “Aku”.&lt;br /&gt;Dari Pajajaran San   Ali melanjutkan  pengembaraannya menuju Palembang, menemui Aria Damar,   seorang adipati,  sekaligus pengamal sufi-kebatinan, santri Maulana   Ibrahim Samarkandi.  Pada masa tuanya, Aria Damar bermukim di tepi   sungai Ogan, Kampung  Pedamaran.&lt;br /&gt;Diperkirakan Syekh Siti Jenar   berguru  kepada Aria Damar antara tahun 1448-1450 M. bersama Aria   Abdillah ini,  San Ali mempelajari pengetahuan tentang hakikat   ketunggalan alam semesta  yg dijabarkan dari konsep “nurun ‘ala nur”   (cahaya Maha Cahaya), atau  yg kemudian dikenal sebagai kosmologi   emanasi.&lt;br /&gt;Dari Palembang, San Ali melanjutkan  perjalanan ke Malaka   dan banyak bergaul dgn para bangsawan suku Tamil  maupun Malayu. Dari   hubungan baiknya itu, membawa San Ali untuk memasuki  dunia bisnis dgn   menjadi saudagar emas dan barang kelontong. Pergaulan  di dunia bisnis   tsb dimanfaatkan oleh San Ali untuk mempelajari berbagai  karakter  nafsu  manusia, sekaligus untuk menguji laku zuhudnya ditengah  gelimang   harta. Selain menjadi saudagar, Syekh Siti jenar juga  menyiarkan  agama  Islam yg oleh masyarakat setempat diberi gelar Syekh  jabaranta.  Di  Malaka ini pula, ia bertemu dgn Datuk Musa, putra Syekh  Datuk  Ahmad.  Dari uwaknya ini, Syekh Datuk Ahmad, San Ali dianugerahi  nama  keluarga  dan nama ke-ulama-an Syekh Datuk ‘Abdul Jalil.&lt;br /&gt;Dari  perenungannya  mengenai dunia nafsu  manusia, hal ini membawa Syekh Siti  Jenar menuai  keberhasilan  menaklukkan tujuh hijab, yg menjadi  penghalang utama  pendakian rohani  seorang salik (pencari kebenaran).  Tujuh hijab itu  adalah lembah kasal  (kemalasan naluri dan rohani  manusia); jurang futur  (nafsu menelan  makhluk/orang lain); gurun malal  (sikap mudah berputus  asa dalam  menempuh jalan rohani); gurun riya’  (bangga rohani); rimba  sum’ah (pamer  rohani); samudera ‘ujub  (kesombongan intelektual dan  kesombongan  ragawi); dan benteng hajbun  (penghalang akal dan nurani).&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pencerahan Rohani di Baghdad&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Setelah   mengetahui bahwa dirinya  merupakan salah satu dari keluarga besar   ahlul bait (keturunan  Rasulullah), Syekh Siti Jenar semakin memiliki   keinginan kuat segera  pergi ke Timur Tengah terutama pusat kota suci   Makkah.&lt;br /&gt;Dalam perjalanan ini, dari pembicaraan  mengenai hakikat   sufi bersama ulama Malaka asal Baghdad Ahmad  al-Mubasyarah al-Tawalud   di sepanjang perjalanan. Syekh Siti Jenar mampu  menyimpan satu   perbendaharaan baru, bagi perjalanan rohaninya yaitu  “ke-Esaan af’al   Allah”, yakni kesadaran bahwa setiap gerak dan segala  peristiwa yg   tergelar di alam semesta ini, baik yg terlihat maupun yg  tidak terlihat   pada hakikatnya adalah af’al Allah. Ini menambah  semangatnya untuk   mengetahui dan merasakan langsung bagaimana af’al  Allah itu optimal   bekerja dalam dirinya.&lt;br /&gt;Inilah pangkal pandangan yg dikemudian    hari memunculkan tuduhan dari Dewan Wali, bahwa Syekh Siti Jenar    menganut paham Jabariyah. Padahal bukan itu pemahaman yg dialami dan    dirasakan Syekh Siti Jenar. Bukan pada dimensi perbuatan alam atau    manusianya sebagai tolak titik pandang akan tetapi justru perbuatan    Allah melalui iradah dan quradah-NYA yg bekerja melalui diri manusia,    sebagai khalifah-NYA di alam lahir. Ia juga sampai pada suatu kesadaran    bahwa semua yg nampak ada dan memiliki nama, pada hakikatnya hanya    memiliki satu sumber nama, yakni Dia Yang Wujud dari segala yg maujud.&lt;br /&gt;Sesampainya   di Baghdad, ia menumpang di  rumah keluarga besar Ahmad al-Tawalud.   Disinilah cakrawala pengetahuan  sufinya diasah tajam. Sebab di keluarga   al-Tawalud tersedia banyak  kitab-kitab ma’rifat dari para sufi   kenamaan. Semua kitab itu adalah  peninggalan kakek al-Tawalud, Syekh   ‘Abdul Mubdi’ al-Baghdadi. Di Irak  ini pula, Syekh Siti Jenar   bersentuhan dgn paham Syi’ah Ja’fariyyah, yg  di kenal sebagai madzhab   ahl al-bayt.&lt;br /&gt;Syekh Siti Jenar membaca dan mempelajari  dgn Baik   tradisi sufi dari al-Thawasinnya al-Hallaj (858-922),  al-Bushtamii   (w.874), Kitab al-Shidq-nya al-Kharaj (w.899), Kitab  al-Ta’aruf   al-Kalabadzi (w.995), Risalah-nya al-Qusyairi (w.1074),  futuhat   al-Makkiyah dan Fushush al-Hikam-nya Ibnu ‘Arabi (1165-1240),  Ihya’   Ulum al-Din dan kitab-kitab tasawuf al-Ghazali (w.1111), dan  al-Jili   (w.1428). secara kebetulan periode al-jili meninggal, Syekh Siti  Jenar   sudah berusia dua tahun. Sehingga saat itu pemikiran-permikiran    al-Jili, merupakan hal yg masih sangat baru bagi komunitas Islam    Indonesia.&lt;br /&gt;Dan sebenarnya Syekh Siti Jenar-lah yg  pertama kali   mengusung gagasan al-Hallaj dan terutama al-Jili ke Jawa.  Sementara itu   para wali anggota Dewan Wali menyebarluaskan ajaran Islam  syar’i   madzhabi yg ketat. Sebagian memang mengajarkan tasawuf, namun  tasawuf   tarekati, yg kebanyakkan beralur pada paham Imam Ghazali.  Sayangnya,   Syekh Siti Jenar tidak banyak menuliskan ajaran-ajarannya  karena   kesibukannya menyebarkan gagasan melalui lisan ke berbagai  pelosok   Tanah Jawa. Dalam catatan sastra suluk Jawa hanya ada 3 kitab  karya   Syekh Siti Jenar; Talmisan, Musakhaf (al-Mukasysyaf) dan Balal  Mubarak.   Masyarakat yg dibangunnya nanti dikenal sebagai komunitas Lemah   Abang.&lt;br /&gt;Dari  sekian banyak kitab sufi yg dibaca  dan dipahaminya,  yg paling berkesan  pada Syekh Siti Jenar adalah kitab  Haqiqat  al-Haqa’iq, al-Manazil  al-Alahiyah dan al-Insan al-Kamil fi  Ma’rifat  al-Awakhiri wa al-Awamil  (Manusia Sempurna dalam Pengetahuan  tenatang  sesuatu yg pertama dan  terakhir). Ketiga kitab tersebut,  semuanya  adalah puncak dari ulama  sufi Syekh ‘Abdul Karim al-Jili.&lt;br /&gt;Terutama  kitab al-Insan al-Kamil,  Syekh  Siti Jenar kelak sekembalinya ke Jawa  menyebarkan ajaran dan  pandangan  mengenai ilmu sangkan-paran sebagai  titik pangkal paham  kemanuggalannya.  Konsep-konsep pamor, jumbuh dan  manunggal dalam  teologi-sufi Syekh Siti  Jenar dipengaruhi oleh  paham-paham puncak  mistik al-Hallaj dan al-Jili,  disamping itu karena  proses pencarian  spiritualnya yg memiliki ujung  pemahaman yg mirip dgn  secara  praktis/’amali-al-Hallaj; dan secara  filosofis mirip dgn  al-Jili dan  Ibnu ‘Arabi.&lt;br /&gt;Syekh Siti Jenar menilai bahwa   ungkapan-ungkapan yg  digunakan al-Jili sangat sederhana, lugas, gampang   dipahami namun tetap  mendalam. Yg terpenting, memiliki banyak  kemiripan  dgn pengalaman  rohani yg sudah dilewatkannya, serta yg akan  ditempuhnya.  Pada akhirnya  nanti, sekembalinya ke Tanah Jawa, pengaruh  ketiga kitab  itu akan  nampak nyata, dalam berbagai ungkapan mistik,  ajaran serta   khotbah-khotbahnya, yg banyak memunculkan  guncangan-guncangan keagamaan   dan politik di Jawa.&lt;br /&gt;Syekh Siti  Jenar banyak meluangkan waktu   mengikuti dan mendengarkan konser-konser  musik sufi yg digelar   diberbagai sama’ khana. Sama’ khana adalah  rumah-rumah tempat para sufi   mendengarkan musik spiritual dan  membiarkan dirinya hanyut dalam  ekstase  (wajd). Sama’ khana mulai  bertumbuhan di Baghdad sejak abad  ke-9  (Schimmel; 1986, hlm. 185).  Pada masa itu grup musik sufi yg  terkenal  adalah al-Qawwal dgn  penyanyi sufinya ‘Abdul Warid al-Wajd.&lt;br /&gt;Berbagai  pengalaman  spiritual dilaluinya  di Baghdad sampai pada tingkatan  fawa’id  (memancarnya potensi pemahaman  roh karena hijab yg  menyelubunginya  telah tersingkap. Dgn ini seseorang  akan menjadi  berbeda dgn umumnya  manusia); dan lawami’  (mengejawantahnya cahaya  rohani akibat  tersingkapnya fawa’id), tajaliyat  melalui Roh al-haqq dan  zawaid  (terlimpahnya cahaya Ilahi ke dalam  kalbu yg membuat seluruh  rohaninya  tercerahkan). Ia mengalami berbagai  kasyf dan berbagai  penyingkapan  hijab dari nafsu-nafsunya. Disinilah  Syekh Siti Jenar  mendapatkan  kenyataan memadukan pengalaman sufi dari  kitab-kitab  al-Hallaj, Ibnu  ‘Arabi dan al-Jili.&lt;br /&gt;Bahkan setiap kali ia  melantunkan dzikir   dikedalaman lubuk hatinya dgn sendirinya ia  merasakan denting dzikir   dan menangkap suara dzikir yg berbunyi aneh,  Subhani, alhamdu li, la   ilaha illa ana wa ana al-akbar, fa’budni  (mahasuci aku, segala puji   untukku, tiada tuhan selain aku, maha besar  aku, sembahlah aku).   Walaupun telinganya mendengarkan orang di  sekitarnya membaca dzikir   Subhana Allah, al-hamduli Allahi, la ilaha  illa Allah, Allahu Akbar,   fa’buduhu, namun suara yg di dengar lubuk  hatinya adalah dzikir nafsi,   sebagai cerminan hasil man ‘arafa bafsahu  faqad ‘arafa Rabbahu  tersebut.  Sampai di sini, Syekh Siti Jenar semakin  memahami makna  hadist  Rasulullah “al-Insan sirri wa ana sirruhu”  (Manusia adalah  Rahasia-Ku  dan Aku adalah rahasianya).&lt;br /&gt;Sebenarnya  inti ajaran  Syekh Siti Jenar  sama dgn ajaran sufi ‘Abdul Qadir  al-Jilani (w.1165),  Ibnu ‘Arabi  (560/1165-638-1240), Ma’ruf al-Karkhi,  dan al-Jili. Hanya  saja ketiga  tokoh tsb mengalami nasib yg baik dalam  artian, ajarannya  tidak  dipolitisasi, sehingga dalam kehidupannya di  dunia tidak pernah   mengalami intimidasi dan kekerasan sebagai korban  politik dan menemui   akhir hayat secara biasa.&lt;br /&gt;﻿&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7611914168134255876-5368195321458468332?l=www.ngaco.tk' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ngaco.tk/feeds/5368195321458468332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ngaco.tk/2011/08/syekh-siti-jenar-oleh-abdus-syakuur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7611914168134255876/posts/default/5368195321458468332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7611914168134255876/posts/default/5368195321458468332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ngaco.tk/2011/08/syekh-siti-jenar-oleh-abdus-syakuur.html' title='SYEKH SITI JENAR'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11556631060120660835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7611914168134255876.post-2851533768953092552</id><published>2011-08-09T10:17:00.000-07:00</published><updated>2011-09-13T04:48:16.141-07:00</updated><title type='text'>KETERBATASAN WAKTU</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;seiring datangnya waktu yang datang silih berganti dari mulai jam, hari, bulan dan bergantinya tahun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;terbesit sebuah dalam pikiran kita, apakah kita sudah berubah oleh perkembangan zaman&amp;nbsp; atau kah kita tertinggal oleh zaman itu sendiri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;apakah dalam hati kecil anda pernah terbesit sebuah pertanyaan " Sudah sempurnakah aku,,,???" apakah dalam hidup ini perubahan demi perubahan itu sangat diperlukan...????selama ini kita selalu di sibukkan hal yang sangat tabu, contohnya saja dalam melakukan suatu pekerjaan, apakah sudah sesuai dengan waktu yang telah diatur oleh perusahaan. gelisah dalam melakukan suatu hal yang tidak pernah dilakukan apalagi dalam sebuah tekanan yang membuat kita seakan-akan mengejar target yang tak pasti. sejujurnya dalam hidup manusia apa yang kita cari,,,???&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7611914168134255876-2851533768953092552?l=www.ngaco.tk' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ngaco.tk/feeds/2851533768953092552/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.ngaco.tk/2011/08/keterbatasan-waktu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7611914168134255876/posts/default/2851533768953092552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7611914168134255876/posts/default/2851533768953092552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ngaco.tk/2011/08/keterbatasan-waktu.html' title='KETERBATASAN WAKTU'/><author><name>syahroni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11556631060120660835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
